MIN

Saat baru kelas satu SMP, saya berusaha mengenal semua teman satu kelas maupun berbeda kelas. Sayangnya, saya lupa seorang teman itu berasal dari kelas yang sama denganu atau berbeda kelas.
Namanya, Helmi. Anak laki-laki itu bertubuh agak gemuk namun agak pendek. Naka itu ramah dan suka tertawa. Aku pun menjadi akrab setelah berkenalan dengannya.
Awalnya aku berkenalan dengannya adalah ketika kami berkumpul di lapangan untuk upacara. Ya, hari Senin. Seorang temanku mengatakan bahwa Helmi adalah lulusan MIN. Sungguh, aku tidak tahu apa itu MIN. Meski aku tidak tahu apa itu MIN, aku tidak melanjutkannya dengan pertanyaan mengenai MIN. Yang jelas, temanku mengatakan itu dengan pandangan tidak seperti biasanya.
MIN, tetap menjadi pertanyaan di dalam hati.
Enam belas tahun kemudian, barulah aku mengerti apa itu MIN. Iya, 16 tahun. Tepatnya setelah saya merantau di Kalimantan dan menjadi guru honorer di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Kebetulan pada saat itu, MTs tempatku menjadi honorer baru berdiri dan belum punya gedung sendiri. Sudah ada kelas, dan untuk sementara kelasnya menumpang di sebuah MIN. Iya, Madrasah Ibtidaiyah Negeri. MIN itu bernama MIN Mendawai di Kecamatan Arut Selatan, Kotaawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Sekarang, 25 tahun setelah baru mengenal MIN, saya dipercaya menjadi Kepala MIN 4 Kotawaringin Barat yang terletak tidak jauh dari rumahku.
Begitulah pemahamanku mengenai MIN.

26 Maret 2022 at 10.10 Tinggalkan komentar

Kaca mata

Dari sisi fungsi, tentulah kaca mata bisa sangat fungsional, artinya bisa sebagai alat bantu baca, bisa juga untuk mengurangi silau. Meski begitu, bisa saja sekadar aksesoris. Untuk gaya saja.

Berbagai model kaca mata tampaknya sekarang menjadi tren. Apalagi pengaruh dari pantulan radiasi gadget sangat berpengaruh pada kesehatan mata. Anak-anak kecil yang semestinya sehat dengan mata yang tajam, saat ini banyak terpengaruh. Kita bisa melihat di sekolah-sekolah, bahkan anak setingkat SD sudah berkaca mata.

Di tengah kemajuan ini, bisnis kacamata menjadi bisnis yang menggiurkan. Pembelajaran jarak jauh menjadikan anak harus lebih banyak dekat dengan hape, menjadikan mereka harus berkacamata. Mereka inilah pasar nyata kaca mata.

Di pasar tradisional, biasanya ada pedagang kaca mata. Biasanya yang dijual adalah kaca mata hias atau kaca mata baca untuk orang tua. Harganya murah sekitar 25 ribu sampai 30 ribu. Modelnya banyak yang mirip dengan kaca mata yang dijual di toko optik yang harganya 2 sampai 5 juta.

Dan sekarang, saya harus ganti kaca mata untuk yang kesekian kalinya.

11 Februari 2022 at 09.17 Tinggalkan komentar

Ada Apa dengan Anak MI?

Mungkin tidak banyak yang tahu dengan singkatan MI. Meski begitu, tentulah cukup banyak yang tahu, apa itu MI?

MI adalah sebuah lembaga pendidikan dasar di bawah lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia. MI adalah sebuah sekolah dasar dengan ciri khas keislamannya. Ciri khas keislaman pada lembaga pendidikan MI itu bersifat formal. Artinya, MI, atau Madrasah Ibtidaiyah itu berciri khas Islam secara fisik maupun batin. Kita bisa melihat siswa dan siswa yang mengenyam pendidikan di MI berseragam islami berupa baju lengan panjang dan rok panjang yang dilengkapi jilbab yang menutupi wajah mereka yang putri. Siswa putra semenjak kelas satu sudah mengenakan celana panjang walaupun bukan merupakan kewajiban, yang dilengkapi dengan kopiah pada hari-hari tertentu. Begitu juga dengan seragam olahraga yang berupa setelan pakaian training berupa celana panjang dan kaus lengan panjang.

Sebagai kepala MI dengan latar belakang pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tentulah bukan seorang guru yang siap menghadapi anak-anak MI yang berusia 6 sampai 12 tahun. Iya, seumur hidup menjadi guru, saya lebih banyak menghadapi siswa setingkat SMP atau SMA. Siswa MI tentu saja berbeda jauh dibandingkan dengan siswa MTs yang setingkat SMP. Kenyataan bahwa siswa kelas 1 sampai tiga jauh berbeda dengan siswa kelas empat sampai enam saja mengharuskan guru dan kepala sekolah menghadapinya dengan cara yang berbeda.

Kenyataan itu menjadikan guru kesulitan membuat program kegiatan ekstrakurikuler. Tentu berbeda ekstrakurikuler yang tepat untuk siswa kelas rendah dan kelas tinggi. Ini istilah yang dibuat kesepakatan di antara pemangku pendidikan tingkat MI.

Saya sebagai seorang guru Bahasa Indonesia, terlalu fokus pada hasil akhir pendidikan. Program yang saya buat untuk siswa yang akan lulus berupa penerbitan buku kumpulan puisi bersama. Penyusunan buku kumpulan puisi bagi siswa MTs saja terasa sulit. Tapi, apakah itu menjadi hambatan? Bukankah beberapa seolah setingkat SD sudah menerbitkan buku?

Nah, kalau ingat yang seperti itu, saya jadi bersemangat kembali.

Kumai, 10 Februari 2022

10 Februari 2022 at 10.50 Tinggalkan komentar

Ada Apa dengan Anak MI?

Mungkin tidak banyak yang tahu dengan singkatan MI. Meski begitu, tentulah cukup banyak yang tahu, apa itu MI?
MI adalah sebuah lembaga pendidikan dasar di bawah lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia. MI adalah sebuah sekolah dasar dengan ciri khas keislamannya. Ciri khas keislaman pada lembaga pendidikan MI itu bersifat formal. Artinya, MI, atau Madrasah Ibtidaiyah itu berciri khas Islam secara fisik maupun batin. Kita bisa melihat siswa dan siswa yang mengenyam pendidikan di MI berseragam islami berupa baju lengan panjang dan rok panjang yang dilengkapi jilbab yang menutupi wajah mereka yang putri. Siswa putra semenjak kelas satu sudah mengenakan celana panjang walaupun bukan merupakan kewajiban, yang dilengkapi dengan kopiah pada hari-hari tertentu. Begitu juga dengan seragam olahraga yang berupa setelan pakaian training berupa celana panjang dan kaus lengan panjang.
Sebagai kepala MI dengan latar belakang pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tentulah bukan seorang guru yang siap menghadapi anak-anak MI yang berusia 6 sampai 12 tahun. Iya, seumur hidup menjadi guru, saya lebih banyak menghadapi siswa setingkat SMP atau SMA. Siswa MI tentu saja berbeda jauh dibandingkan dengan siswa MTs yang setingkat SMP. Kenyataan bahwa siswa kelas 1 sampai tiga jauh berbeda dengan siswa kelas empat sampai enam saja mengharuskan guru dan kepala sekolah menghadapinya dengan cara yang berbeda.
Kenyataan itu menjadikan guru kesulitan membuat program kegiatan ekstrakurikuler. Tentu berbeda ekstrakurikuler yang tepat untuk siswa kelas rendah dan kelas tinggi. Ini istilah yang dibuat kesepakatan di antara pemangku pendidikan tingkat MI.
Saya sebagai seorang guru Bahasa Indonesia, terlalu fokus pada hasil akhir pendidikan. Program yang saya buat untuk siswa yang akan lulus berupa penerbitan buku kumpulan puisi bersama. Penyusunan buku kumpulan puisi bagi siswa MTs saja terasa sulit. Tapi, apakah itu menjadi hambatan? Bukankah beberapa seolah setingkat SD sudah menerbitkan buku?
Nah, kalau ingat yang seperti itu, saya jadi bersemangat kembali.

Kumai, 10 Februari 2022

10 Februari 2022 at 10.47 Tinggalkan komentar

Jumpa Lagi

Beberapa tahun sudah blog saya ini tidak saya tengok. Dalam pikir, blog ini sudah dihapus.Bahkan saya sudah lupa dengan username dan password blog saya ini. Sambil dicoba-coba beberapa email dan password, akhirnya dapat ditemukan lagi. Tentu syukur saya berlimpah kepada-Nya.

Beberapa tahun saya tidak memposting sesuatu di blog ini, dan bahkan menengoknya saja tidak, tentu bukan tanpa alasan – biasalah, manusia selalu pembenaran atas apapun yang dilakukan, begitu juga saya – alasan saya adalah sibuk. Tak terasa, sejak 2020 saya mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala MTsN 1 Kotawaringin Barat. Satu tahun setengah,tapi cukup memakan energi karena kepala MTsN berarti juga menjadi PPK dan KPA. Banyak dokumen yang harus dibuat dengan bantuan tata usaha dan bendahara, kepala madrasah cukup tanda tangan saja.Tentu tidak asal tanda tangan, saya harus teliti membaca dokumen-dokumen itu.

(lebih…)

9 Februari 2022 at 08.46 Tinggalkan komentar

Program Induksi dan Harapan Guru Baru

Setiap tahun, hampir dapat dipastikan, pemerintah selalu mengangkat guru-guru baru untuk mengisi kekurangan tenaga guru di sekolah-sekolah pemerintah maupun sekolah-sekolah swasta. Begitu pula tahun 2015 ini, akan terdapat penerimaan pegawai guru yang ditambah dengan prediksi akan terjadi pensiun besar-besaran setelah pengangkatan guru inpres yang akan segera memasuki masa pensiun.
Bagi para calon guru, kepala sekolah, dan lembaga pendidikaan, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sehubungan dengan hal itu. Salah satu hal yang harus dipersiapkan adalah program induksi guru pemula yang selanjutnya disebut PIGP atau program induksi. Ketika seorang calon guru melapor ke sekolah atau madraah, maka yang bersangkutan harus menanyakan pelaksanaan program induksi ini kepada kepala sekolah atau madrasah agar proses pengangkatannya menjadi PNS atau guru tetap yayasan tidak mengalami hambatan.
Program induksi adalah kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja, pengembangan, dan praktik pemecahan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran/bimbingan dan konseling bagi guru pemula pada sekolah atau madrasah di tempat tugasnya. Program ini dirasa perlu dengan pertimbangan bahwa salah satu syarat untuk pengangkatan pertama kali dalam jabatan fungsional guru harus memiliki kinerja yang baik yang dinilai dalam masa program induksi seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2010 tentang Program Induksi Bagi Guru Pemula.
Yang dimaksud dengan guru pemula adalah guru yang baru pertama kali ditugaskan melaksanakan proses pembelajaran/bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat. Konsekuensi dari peraturan ini adalah terselenggaranya program induksi bagi guru di sekolah maupun madrasah negeri maupun swasta, baik guru yang baru lulus pendidikan S 1 atau D IV maupun guru yang dimutasi dari jabatan lain.
Tujuan program induksi adalah membimbing guru pemula agar dapat beradaptasi dengan iklim kerja dan budaya sekolah/madrasah dan melaksanakan pekerjaannya sebagai guru profesional di sekolah/madrasah. Untuk menjadikan guru profesional, selain seorang guru harus minimal berijazah S 1 atau D IV, maka sebelum terjun sepenuhnya sebagai guru profesional dia harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya dan mengenal tugas pokok dan fungsinya. Dalam program induksi ini, yang harus dikenal calon guru selain lingkungan kerjanya adalah kewajibannya dalam merencanakan pembelajaran/bimbingan dan konseling, melaksanakan pembelajaran/bimbingan dan konseling yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran/bimbingan dan konseling, serta melaksanakan perbaikan dan pengayaan.
Program induksi dilaksanakan di satuan pendidikan tempat guru pemula bertugas selama satu tahun dan dapat diperpanjang paling lama satu tahun apabila pada tahun pertama hasil pelaksanaan program induksi tidak memenuhi kriteria. Program induksi ini dilaksanakan sebagai salah satu syarat pengangkatan dalam jabatan fungsional guru. Sebagai sebuah persyaratan, guru pemula yang sudah mengikuti program induksi harus dibekali dengan sertifikat PIGP yang dikeluarkan oleh dinas pendidikan atau kementerian agama kabupaten.
Program induksi dilaksanakan secara bertahap dan sekurang-kurangnya meliputi persiapan, pengenalan sekolah atau madrasah dan lingkungannya, pelaksanaan dan observasi pembelajaran/bimbingan dan konseling, penilaian, dan pelaporan. Selama berlangsungnya program induksi, pembimbing, kepala sekolah atau madrasah, dan pengawas wajib membimbing guru pemula agar menjadi guru yang profesional. Pembimbingan yang diberikan meliputi bimbingan dalam perencanaan pembelajaran/bimbingan dan konseling, pelaksanaan kegiatan pembelajaran/bimbingan dan konseling, penilaian dan evaluasi hasil pembelajaran/bimbingan dan konseling, perbaikan dan pengayaan dengan memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi pembelajaran/bimbingan dan konseling, dan pelaksanaan tugas lain yang relevan sebagai guru.
Pembimbing program induksi ditugaskan kepada guru senior oleh kepala sekolah atau madrasah atas dasar profesionalisme dan kemampuan komunikasi. Jika sekolah atau madrasah tidak memiliki pembimbing sebagaimana dipersyaratkan, kepala sekolah atau madrasah dapat menjadi pembimbing sejauh dapat dipertanggungjawabkan dari segi profesionalisme dan kemampuan komunikasi. Dapat pula dilakukan dengan meminta pembimbing dari satuan pendidikan yang terdekat dengan persetujuan kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota atau kantor kementerian agama kabupaten/kota sesuai dengan tingkat kewenangannya.
Program induksi guru pemula ini telah dilaksanakan di beberapa kabupaten dan provinsi di seluruh Indonesia meski di beberapa kabupaten lainnya program ini belum dilaksanakan dengan beberap alasan, seperti belum tersosialisasi, belum ada guru pembimbing yang telah mengikuti pelatihan, atau alasan lain. Namun, seperti peraturan-peraturan lain yang telah diterbitkan oleh kementerian pendidikan bagi guru di bawah binaannya dan guru di bawah kementerian agama, ataupun guru yayasan pendidikan, jangan sampai kemudian terjebak dengan tidak dapat diangkatnya guru pemula menjadi PNS atau bahkan tidak dapat menerima haknya sebagai guru profesional karena sistem tidak mengizinkannya.
Peraturan mengenai pengelola perpustakaan dan pengelola laboratorium (laboran) dalam sertifikasi guru, atau kewajiban mengajar 24 sampai 40 jam pelajaran per minggu, misalnya, dipersyaratkan dalam sistem dan telah memakan cukup banyak korban yang sebenarnya profesional namun kehilangan haknya karena tidak terpenuhinya persyaratan. Tidak tertutup kemungkinan hal seperti itu pun akan terjadi dalam pengangkatan guru pemula menjadi PNS ketika diintegrasikan dalam sistem yang berlaku.

26 Juni 2019 at 11.00 Tinggalkan komentar

Cerpen: Rindu di Tanjung Keluang

Gadis itu, Rindu, merindukan kedamaian. Sudah sejak sepekan yang lalu ia memutuskan untuk meninggalkan keramaian kotanya. Tak banyak tempat tenang yang ia ketahui selain Tanjung Keluang.
Ya, Tanjung Keluang adalah sebuah tempat di ujung kota ini. Letaknya di sebuah semenanjung. Pantainya berupa pasir landai yang ditumbuhi rumput yang tumbuh rendah. Di beberapa sisi terdapat aliran sungai kecil dengan air jernih. Ikan-ikan kecil hidup dengan riang di sungai kecil itu.
Laut Jawa yang terhampar luas di hadapannya, berpeluk dengan pantai pasir putih yang bersih. Di belakangnya, hutan perdu berwarna hijau berada di tempat ketinggian. Jalanan berpasir menghubungkan antara pantai semenanjung dengan hutan perdu itu.
Udara yang sejuk dengan angin yang tidak terlalu kencang memenuhi rongga dada Rindu yang merindukan kedamaian. Dari tempat ini, Rindu benar-benar merasakan kedamaian. Pagi hari selepas shalat Subuh, rona jingga memenuhi langit hingga matahari menunjukkan keperkasaannya sebagai penjaga siang.
Wajah Rindu bersemu merah karena terpapar sinar matahari yang mulai nakal ingin membakar kulit langsatnya. Dalam kedamaian itu, Rindu tak ingin memusuhi sinar matahari di siang hari. Ia memiih untuk berindung di bawah naungan dedaun cemara yang membisikan kedamaian dalam pelukan sepoi angin. Dadanya semakin terasa lapang. Oksigen segar memenuhi paru-parunya.
Saat matahari semakin tinggi, panasnya terasa menyengat. Panas itu bergantian dengan sepoi angin laut. Di semenanjung itu, darimana pun angin bertiup, tetaplah menjadi angin laut. Semenanjung itu dikelilingi oleh laut.
Panas matahari tak mampu menyentuh kulitnya. Tajuk cemara yang saling berpeluk menjadikan tanah berpasir di bawah kakinya tak pernah kering. Begitu juga kulit Rindu, tak tersentuh sinar matahari meski siang itu panas oleh kegagahan matahari. Rindu menemu kedamaian yang dirindukannya.
Senja di Tanjung Keluang adalah saat yang dirindukan. Tidak eperti suasana pagi hari yang dilanjutkan dengan terang, senja berakhir dengan kegelapan saat matahari berpeluk dengan malam. Saat seperti ini, Rindu hanya bisa berharap pada rembulan. Kehadiran rembulan yang kedisiplinannya berbeda dengan matahari, menjadikan malam terkadang kelam, namun bisa juga menjadi malam terang yang lembut.
Tidak seperti matahari yang mirip lelaki perkasa, rembulan seperti ibu yang memberikan pelukan hangat dengan pandangannya yang teduh. Rindu tak berani menatap matahari yang perkasa, namun ia selalu tersenyum memandang rembulan. Rembulan tak pernah pelit memberikan senyumnya. Di saat mega menutupi senyumnya untuk Rindu, rembulan tetap memberikan senyum meski dari balik tabir awan. Rindu sangat memahaminya. Di saat seperti itu, rindu akan semakin merindukan kedamaian senyum rembulan.
Pagi itu, saat cuaca bersahabat dengan para nelayan, Rindu menyusuri pantai. Disapanya para lelaki perkasa yang membawa peralatan melaut. Lelaki-lelaki perkasa itu berkulit legam sebagai tanda bahwa mereka bersahabat dengan sinar matahari di tengah lautan yang luas.
Sebersahabat apapun, laut selalu mengombang-ambingkan perahu kecil mereka. Bahaya selalu mengancam mereka. Tapi para leaki perkasa itu menyadari bahwa keperkasaan mereka akan teruji di tengah laut. Lelaki perkasa bukanlah yang berdiam diri di rumah. Bagi mereka, keperkasaan lelaki adalah jika pernah terombang-ambing di tengah laut dalam badai dan ombak besar. Keperkasaan adalah keberanian bersahabat dengan gelombang yang memabukkan.
Setiap pagi, Rindu semakin merindukan bau tubuh lelaki perkasa itu. Kulitnya yang legam mengkilap tak pernah lepas dari ingatannya. Otot-otot kekarnya menunjukkan betapa kuatnya lelaki itu bekerja. Mereka tak peduli ramainya kota. Mereka lebih suka kesunyian atau sekadar ramainya riak air laut yang yang menabrak dinding perahu mereka, teriakan burung-burung camar, atau tarian ikan-ikan yang menggoda para lelaki perkasa itu.
Lelaki perkasa itu selalu berjalan menyendiri di pantai. Dia jarang terlihat berjalan bersama-sama dengan rombongannya. Lelaki itu tak banyak cakap seperti lelaki perkasa lainnya. Rambut sebahu menambah kegagahannya. Kulit gelapnya tak mampu mengusir ketampanannya. Tubuh kekarnya menunjukkan kekuatan otot-otot di tubuhnya.
Setiap kali lelaki penyendiri itu berpapasann dengan Rindu di pagi hari, dia selalu memberikan senyum kecilnya. Tak pernah berani lelaki itu beradu pandang dengan Rindu terlalu lama. Selalu saja dia segera memalingkan wajahnya.
Hati Rindu semakin bergemuruh melihat pemandangan seperti itu. Kerinduannya pada senyum kecil itu tak mampu ia tepis. Ia semakin merindukan datangnya pagi, lalu berjalan di pantai, lalu berpapasan dengan lelaki-lelaki perkasa berkulit legam, lalu menemukan senyum kecil dari salah satu dari mereka.
Tak seperti hari-hari biasa, pagi ini lelaki perkasa yang dirindukan Rindu tidak membawa peralatan melaut. Setelah senyum kecil itu, Rindu tak melanjutkan perjalanannya. Dia berbalik dan memandang punggung lelaki perkasa itu. Tanpa sepenuhnya disadari, langkah kecilnya mengikuti arah yang dituju lelaki perkasa itu.
Di kejauhan, dilihatnya lelaki itu membersihkan perahunya seorang diri. Diperiksanya sambungan-sambungan papan yang membentuk perahu kecilnya. Sikat dan ember di tangannya. Setelah disikatnya perahu kecilnya, lelaki perkasa itu mengambil air laut dengan embernya lalu menyiramkan air itu ke perahunya. Perahunya tampak lebih bersih.
Senyum kecil tersungging di bibirnya ketika lelaki perkasa itu menyadari sedang diperhatikan oleh Rindu. Tak ada kata-kata keluar dari mulutnya. Rindu pun tak berharap kata-kata keluar dari mulut lelaki perkasa itu. Rindu hanya merindukan senyum dan kekarnya otot lelaki perkasa itu.
Lelaki itu kembali memberikan senyum kecilnya kemudian berjalan melalui Rindu sambil memberikan senyum kecil kepada Rindu. Rindu membalasnya dengan senyum pula.
Hari sudah semakin siang, Rindu tak melanjutkan perjalanannya. Rindu memilih berbalik ke rumah yang ditinggalinya selama berada di tempat itu. Rindu memasuki kamarnya, kemudian dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur kayu sederhana. Rindu masih tersenyum saat matanya terpejam. Dalam tidurnya, rindu bermimpi bertemu dengan lelaki perkasa itu.
Rindunya tak berakhir. Rindunya menemani tidurnya. Rindunya abadi. Rindunya tak padam hingga akhir tidurnya.

Kumai, Juni 2019

26 Juni 2019 at 10.59 Tinggalkan komentar

Teori Darwin Mutlak Keliru

Teori Darwin mutlak keliru

 

Beratus tahun kita dicekoki dengan Teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Beratus tahun manusia memperdebatkan teori darwin ini. Penganut darwinisme tentu sepakat bahwa manusia berasal dari kera.

Berbeda dengan kaum muslimin yang yang tidak sependapat dengan teori darwin. Kaum muslimin lebih meyakini kitab sucinya yang menyatakan bahwa manusia yang pertama diciptakan oleh Allah S.W.T. adalah Adam alaihissalam. Kemudian diciptakan Hawa yang diciptakan dari Adam. Ini yang kemudian diyakini oleh sebagian besar umat manusia bahwa tulang rusuk laki-laki berbeda jumlahnya antara rusuk kiri dan rusuk kanan.

Ilmu pengetahuan modern dan fakta tidak membenarkan masalah jumlah tulang rusuk laki-laki yang berbeda ini. Tulang rusuk laki-laki jumlahnya sama, ada 12 pasang. Silakan cek. Ini bukan hal yang sulit apalagi ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sangat maju. Informasi di internet menyatakan seperti itu. Kalau masih tidak yakin, silakan datang ke bagian radiologi di rumah sakit, minta ronsen dada para lelaki.

Lah, kok ngelantur jadi masalah tulang rusuk?

Baiklah, kita kembali ke laptop. Teori yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera mutlak keliru. Yang benar adalah kera berasal dari manusia. Kera berasal dari manusia? Ya, kera berasal dari manusia. Ada anak yang degil, lalu orang tuanya menghardiknya, “Dasat monyet, lu!” Nah hardikan itu menunjukkan bahwa manusia berasal dari kera.

“Ah, Willy bercanda!”

Baiklah, sekarang kita serius. Yang meyakini dan punya, silakan buka Al-Quran surat Al-Baqarah, surat kedua, ayat 63 sampai ayat 66. Kalau tidak punya, silakan googling saja. Lebih mudah. Berikut ini terjemahnya:

Sapi Betina (Al-Baqarah):63 – Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”.

Sapi Betina (Al-Baqarah):64 – Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.

Sapi Betina (Al-Baqarah):65 – Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”.

Sapi Betina (Al-Baqarah):66 – Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Silakan pusatkan perhatikan pada kutipan terjemah Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 65 di atas, …, lalu kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. Memang sebagian besar ahli tafsir menafsirkan mereka, kaum Yahudi yang mengingkari perjanjian itu, betul-betul berubah menjadi kera, hanya saja tidak beranak, tidak makan dan minum, dan hidup tidak lebih dari tiga hari.

Apakah para kera itu kemudian mati atau kembali jadi manusia? Saya belum menemukan jawabannya. Hanya saja ayat 66 surat Al-Baqarah menyatakan bahw, “Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. Jadi pelajaran bagi orang yang bertakwa.

Silakan didiskusikan, mana yang benar, manusia berasal dari kera, atau kera berasal dari manusia?

 

29 Mei 2017 at 07.19 Tinggalkan komentar

Sampah

 

Aluh Emok, seperti biasa setiap pagi setelah memasak membuang sampah rumah tangga ke lubang tempat sampah di belakang rumahnya. Enah mengapa, Aluh Emok yang biasanya ceria, kali ini tampak murung. Mulut seksinya jadi monyong.

Anang Cempreng yang melihat Aluh Emok seperti itu, langsung saja menegurnya, “Luh, kenapa mulutmu monyong begitu?”

“Ah, Abang ini. Lihat tuh, sampah segitu banyak gak bisa dibakar, gak bisa lapuk pula.”

“Memangnya, sampahnya apa sih?”

“Lihat aja sendiri. Memangnya aku tukang sensus sampah?” jawab Aluh Emok sambil masih memonyongkan mulutnya. Tumpukan sampah itu memang luar biasa. Sampah organiknya sih sudah tampak membusuk. Yang memenuhi tempat sampah dan tidak mau membusuk adalah sampah pakaian bekas, popok bayi sekali pakai, dan botol plastik bekas minuman, serta berbagai benda kaca.

(lebih…)

9 April 2016 at 01.18 Tinggalkan komentar

Catatan Seorang Guru Menuju Istana Kepresidenan

Menghadiri acara peringatan Detik-Detik Proklamasi di Istana Kepresidenan, bisa jadi itu adalah impian banyak orang Indonesia. Tidak sedikit di antara warga negara ini yang menyempatkan diri untuk menyaksikan peringatan Detik-Detik Proklamasi itu melalui siaran televisi. Namun kesempatan untuk bisa mengikutinya secara langsung adalah hal yang langka. Jangankan bagi warga negara yang tinggal jauh dari ibu kota, bagi warga negara yang tinggal di ibu kota saja, menghadiri peringatan setahun sekali itu sangat kecil kemungkinannya.

Bersyukurlah bagi para teladan, warga negara yang terpilih menjadi teladan di tingkat nasional yang berkesempatan untuk bisa mengikuti acara yang dilaksanakan setahun sekali itu. Begitu pula yang dialami oleh penulis setelah setahun lebih bergelut dengan berbagai dokumen dan prestasi mulai dari tingkat sekolah, tingkat kabupaten, hingga tingkat provinsi hingga akhirnya mewakili guru SMP dari provinsi Kalimantan Tengah untuk ikut beradu prestasi di tingkat nasional. (lebih…)

14 Maret 2016 at 21.01 Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama